Prinsip Mengikuti Dalil dan Jalan Para Ulama dalam Memahami Agama
Prinsip Mengikuti Dalil dan Jalan Para Ulama dalam Memahami Agama
1. Klaim “Tidak Bermadzhab, Hanya Mengikuti Dalil”
Sebagian orang mengatakan: “Saya tidak bermadzhab, saya hanya mengikuti dalil,” atau mengatakan: “Saya dari Ahlul Hadis.”
Perkataan ini mengandung sisi benar dan keliru.
Benarnya adalah karena ia mengagungkan Al-Qur’an dan Sunnah serta menjadikannya sebagai sumber hukum. Namun kelirunya terletak pada cara mencapai tujuan tersebut, karena memahami dalil tidak bisa dilepaskan dari kaidah-kaidah ilmu dan pemahaman para ulama.
2. Memahami Dalil Membutuhkan Kaidah Ushul dan Fikih
Tidak setiap hukum bisa langsung diambil dari dalil secara tekstual. Jika suatu permasalahan tidak ditemukan dalilnya secara eksplisit, maka harus ditelusuri maknanya, dan makna ini tidak boleh dipahami secara individual, melainkan dengan merujuk kepada ijtihad para ulama terdahulu.
Hal ini karena:
• Istinbath hukum memerlukan kaidah ushul fikih
• Kaidah-kaidah tersebut jumlahnya sangat banyak
• Tanpa kaidah, seseorang bisa salah dalam menerapkan dalil
3. Contoh: Hadis Mursal dan Kesalahan Pemahaman Tanpa Kaidah
Jika seseorang hanya berpegang pada kaidah musthalah hadis, ia akan menolak hadis mursal secara mutlak. Padahal para ulama telah berijma’ bahwa hadis mursal boleh diamalkan dengan syarat-syarat tertentu.
Ijma’ ini dinukil oleh:
• Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
• Al-‘Alā’ī dalam Jāmi‘ at-Taḥṣīl
4. Tidak Boleh Membuat Pendapat Baru yang Menyelisihi Ulama Sebelumnya
Di antara kaidah ushul yang disepakati:
لا يجوز إحداث قول جديد إذا كان رافعًا للأقوال السابقة
Tidak boleh membuat pendapat baru jika pendapat tersebut meniadakan pendapat para ulama sebelumnya.
Perkataan Sufyān ats-Tsaurī رحمه الله:
إياك أن تحك رأسك بغير أثر ولا نقل
“Waspadalah, jangan engkau menggaruk kepalamu (berpendapat) tanpa atsar dan tanpa riwayat.”
5. Jalan yang Benar Menuju Fikih Hadis
Pemahaman hadis tidak bisa dicapai kecuali melalui jalan para ulama, yaitu:
• Belajar melalui madzhab-madzhab fikih
• Mengikuti metode istinbath ulama sejak generasi awal
• Tidak mengandalkan pemahaman pribadi yang terputus dari tradisi keilmuan
6. Pentingnya Berguru kepada Ulama Ahlus Sunnah
Termasuk nikmat Allah bagi seorang pemuda atau orang non-Arab yang masuk Islam adalah diberi taufik untuk belajar kepada seorang guru Ahlus Sunnah, yang:
• Memendekkan jalan menuntut ilmu
• Menghindarkan dari kesalahan ijtihad
• Menjelaskan metode yang benar dalam memahami agama
7. Bahaya Ijtihad Tanpa Mengikuti Pemahaman Ulama
Orang yang memahami dalil secara lepas dari pemahaman ulama sebelumnya:
• Lebih besar kemungkinan salahnya
• Berpotensi mengeluarkan pendapat-pendapat ganjil
• Sering terjatuh dalam kekeliruan yang tidak disadari
Niat untuk mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah adalah niat yang benar. Namun jalan untuk mencapainya harus melalui:
• Kaidah ushul dan fikih
• Pemahaman para ulama
• Berguru kepada Ahlus Sunnah
• Tidak berijtihad secara liar tanpa dasar
Barang siapa menempuh jalan selain ini, maka kesalahannya lebih besar daripada benarnya.
Syaikh ‘Abdussalām Suwāyir
Sumber: https://youtu.be/ipJUmENgfN8?si=g5VNNAfVWJ71eUSw
Dapatkan Program Belajar Online dan Ebook Berkualitas di: ilmucenteracademy.com
Posting Komentar untuk "Prinsip Mengikuti Dalil dan Jalan Para Ulama dalam Memahami Agama "
Posting Komentar
Santun dalam berkomentar, cermin pribadi anda