Membongkar Bias Politik dalam Kitab Fitnatul Wahabiyah

#

Membongkar Bias Politik dalam Kitab Fitnatul Wahabiyah

Klaim:

“Kitab Fitnatul Wahabiyah karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan (Mufti Makkah di akhir masa Daulah Utsmaniyah) berisi kritik keras dan catatan sejarah mengenai gerakan Wahabi di masa awal.
Salah satu poin utama yang dijelaskan dalam kitab ini adalah bahwa gerakan Wahabi melakukan pengkafiran (takfir) terhadap umat Islam yang tidak sejalan dengan pemahaman mereka, termasuk penduduk Makkah dan Madinah pada waktu itu.
Beberapa poin penting isi kitab tersebut:
1. Takfir Massal
Penulis mencatat bahwa pendiri gerakan Wahabi menganggap orang-orang yang melakukan tawasul atau ziarah kubur sebagai musyrik, sehingga darah dan harta mereka dianggap halal.
2. Konflik di Makkah
Kitab ini menceritakan sejarah peperangan antara kaum Wahabi dengan Amir Makkah (Sayyid Syarif bin Musa’id) serta bagaimana penduduk Makkah dipaksa mengikuti paham tersebut setelah kota itu dikuasai.
3. Pelarangan Haji
Dicatat juga adanya masa di mana jamaah haji dari luar wilayah (seperti Syam dan Mesir) dilarang masuk ke Hijaz karena wilayah tersebut sudah dikuasai oleh kelompok Wahabi.
Kitab ini adalah rujukan Aswaja (Ahlussunnah wal Jama'ah) sebagai bukti otentik sejarah akar pemikiran radikalisme Wahabi.”

Bantahan:

Pernyataan ini adalah representasi dari narasi sejarah yang timpang. Menjadikan kitab Fitnatul Wahabiyah karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan sebagai "bukti otentik" akar radikalisme adalah sebuah kecacatan dalam metodologi sejarah (Historiografi).

Mengapa? Karena kitab tersebut bukanlah catatan sejarah yang netral, melainkan propaganda politik yang ditulis untuk membela kepentingan Kekaisaran Utsmani (Ottoman) yang saat itu sedang berperang secara militer dan politik melawan berdirinya Negara Saudi Pertama (Ad-Daulah As-Su'udiyyah Al-Ula).

Mari kita bedah dan bantah poin-poin tersebut secara ilmiah dan objektif dengan merujuk pada sumber primer (tulisan asli pendiri dakwah tersebut):

1. Kritik Metodologi Sejarah: Zaini Dahlan Bukanlah Saksi Mata

Secara akademis, untuk menilai validitas sejarah, kita harus melihat rentang waktu penulis.
• Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab wafat pada tahun 1792 M.
• Sayyid Ahmad Zaini Dahlan baru lahir pada tahun 1816 M (24 tahun setelah wafatnya Syaikh) dan menulis kitabnya puluhan tahun setelah masa awal dakwah Najd.
• Artinya, Zaini Dahlan tidak pernah bertemu, tidak pernah berdialog, dan bukan saksi mata era awal gerakan tersebut. Tulisan beliau murni dibangun di atas "katanya", rumor, dan laporan sepihak dari musuh-musuh politik Najd. Sumber primer yang paling adil untuk menilai sebuah pemikiran adalah membaca langsung kitab karya tokoh tersebut, bukan membaca buku karangan musuh politiknya.

2. Bantahan Poin 1 (Tuduhan Takfir Massal dan Menghalalkan Darah)

Klaim bahwa mereka mengkafirkan umat Islam secara serampangan hanya karena tawassul atau ziarah kubur adalah kebohongan yang paling sering diulang-ulang.
• Fakta Teks Primer: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri membantah keras tuduhan ini dalam suratnya kepada penduduk Al-Qashim:
"Mereka menuduh kami mengkafirkan secara mutlak (massal)... Mahasuci Engkau ya Allah, ini adalah kebohongan yang besar! Jika kami saja tidak mengkafirkan orang-orang awam yang menyembah berhala di atas kuburan Ahmad Al-Badawi dan Abdul Qadir Al-Jailani karena kebodohan mereka dan belum sampainya hujah kepada mereka, lalu bagaimana mungkin kami mengkafirkan orang yang tidak berbuat syirik kepada Allah?" (Rujukan: Ar-Rasa'il Asy-Syakhshiyyah, hal. 11).
• Perbedaan Ziarah, Tawassul, dan Istighatsah: Dakwah Salafiyyah sangat menganjurkan ziarah kubur untuk mengingat kematian dan mendoakan jenazah (ini adalah Sunnah). Adapun Tawassul dengan kedudukan Nabi/Orang saleh, Syaikh menilainya sebagai ranah Khilaf Fiqhiyyah (perbedaan pendapat fikih), BUKAN kesyirikan yang menyebabkan pelakunya kafir. Yang beliau perangi adalah Istighatsah (berdoa, meminta rezeki, meminta anak, atau meminta kesembuhan secara langsung kepada penghuni kubur), karena ini adalah murni menyekutukan Allah dalam ibadah.

3. Bantahan Poin 2 (Konflik di Makkah)

Narasi bahwa kaum "Wahabi" datang untuk memaksakan paham ke Makkah adalah penyederhanaan sejarah yang menyesatkan.
• Fakta Sejarah Politik: Peperangan yang terjadi murni adalah perang politik dan teritorial antara dua entitas pemerintahan. Sebelum pasukan Saudi menguasai Hijaz, Syarif Makkah (penguasa Makkah di bawah mandat Utsmani) sering kali menangkap, memenjarakan, bahkan membunuh para peziarah atau ulama dari Najd yang datang untuk haji hanya karena perbedaan paham. Konflik militer meletus sebagai respons pertahanan dan ekspansi wilayah, lazimnya perebutan kekuasaan antar kerajaan di masa lalu, bukan sekadar "perang agama untuk memaksakan takfir".

4. Bantahan Poin 3 (Pelarangan Haji bagi Jamaah Syam dan Mesir)

Ini adalah distorsi sejarah yang luar biasa fatal. Penguasa Saudi dan ulama Najd TIDAK PERNAH melarang kaum muslimin dari negara mana pun untuk melaksanakan rukun Islam kelima.
• Apa yang Sebenarnya Dilarang? Yang dilarang bukanlah ibadah hajinya, melainkan masuknya rombongan Al-Mahmal dari Mesir dan Syam. Mahmal adalah prosesi arak-arakan megah membawa kain penutup Ka'bah (Kiswah) yang dikawal oleh pasukan militer bersenjata, diiringi tabuhan alat musik (tabrak-tabrakan), tarian, dan praktik-praktik kemusyrikan di tanah suci.
• Penguasa Saudi saat itu mensyaratkan: "Kalian boleh masuk ke Makkah untuk berhaji kapan saja, dengan syarat tinggalkan alat musik, jangan membawa pasukan militer yang mengancam keamanan tanah suci, dan jangan melakukan praktik syirik di sekitar Ka'bah." Karena rombongan dari Syam dan Mesir menolak syarat pembersihan bid'ah dan menolak melucuti senjatanya, maka mereka dilarang masuk demi keamanan Makkah. Hal ini kemudian dipelintir menjadi "Wahabi melarang orang berhaji".

Kesimpulan: Menjadikan kitab Fitnatul Wahabiyah sebagai referensi mutlak akar pemikiran adalah tindakan ahistoris (melawan fakta sejarah). Kitab tersebut lebih pantas diklasifikasikan sebagai literatur polemik dan propaganda perang dari era Utsmani akhir. Cara paling adil dan ilmiah untuk menilai pemikiran seseorang adalah dengan membedah karya-karya orisinalnya, bukan bertepuk tangan di atas fitnah yang ditulis oleh rival politiknya.

Dapatkan Program Belajar Online dan Ebook Berkualitas di: ilmucenteracademy.com

Posting Komentar untuk "Membongkar Bias Politik dalam Kitab Fitnatul Wahabiyah"

ikut program