Makna "Kursi" dalam Ayat Kursi: Ilmu Allah atau Pijakan Kaki? (Sebuah Tahqiq Ilmiah)

Makna "Kursi" dalam Ayat Kursi: Ilmu Allah atau Pijakan Kaki? (Sebuah Tahqiq Ilmiah)
Ayat Kursi (QS. Al-Baqarah: 255) adalah ayat yang paling agung di dalam Al-Qur'an. Di dalamnya, Allah ﷻ menyebutkan frasa: "وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ" (Kursi Allah meliputi langit dan bumi).
Namun, di tengah umat Islam sering muncul perdebatan seputar makna "Kursi" tersebut. Sebagian pihak berpendapat bahwa Kursi hanyalah kata kiasan untuk "Ilmu Allah", sementara mayoritas ulama Salafus Shalih menetapkan bahwa Kursi adalah makhluk fisik yang sangat agung.
Lantas, manakah pendapat yang paling kuat dan valid secara sanad? Mari kita bedah melalui kacamata Musthalah Hadits dan Kaidah Tafsir.
1. Akar Miskonsepsi: Benarkah Ibnu Abbas Menafsirkan Kursi sebagai Ilmu?
Pendapat yang mengartikan Kursi sebagai "Ilmu" biasanya disandarkan pada sebuah riwayat dari sahabat mulia, Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma. Riwayat ini memang tercantum dalam beberapa kitab tafsir klasik seperti Tafsir At-Thabari dan Tafsir Al-Qurthubi.
Namun, di dalam tradisi keilmuan Islam, mencantumkan sebuah riwayat tidak serta-merta mengesahkan kebenarannya. Jika ditelusuri melalui ilmu hadits, riwayat yang menafsirkan Kursi sebagai Ilmu berporos pada jalur sanad yang lemah (Dhaif), yaitu dari seorang perawi bernama Ja'far bin Abi Al-Mughirah.
Para pakar hadits menjelaskan bahwa riwayat dari Ja'far ini bertentangan dengan riwayat perawi-perawi lain yang levelnya jauh lebih Tsiqah (tepercaya). Dalam ilmu hadits, riwayat yang menyelisihi jalur yang lebih kuat disebut sebagai Riwayat Syadz (Ganjil dan Tertolak).
2. Makna yang Shahih: Kursi adalah Tempat Berpijak
Riwayat yang disepakati kesahihannya oleh para ulama ahli hadits—seperti Imam Ibnu Khuzaimah, Al-Hakim, dan disahihkan pula oleh Imam Adz-Dzahabi serta Syaikh Al-Albani—menunjukkan makna yang sama sekali berbeda.
Dari jalur perawi Muslim Al-Bathin, dari Sa'id bin Jubair, Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma dengan tegas berkata:
«الْكُرْسِيُّ مَوْضِعُ الْقَدَمَيْنِ، وَالْعَرْشُ لَا يُقَدِّرُ قَدْرَهُ إِلَّا اللَّهُ»
"Kursi adalah tempat berpijak kedua kaki (Allah), sedangkan Arsy tidak ada yang bisa mengukur kebesarannya kecuali Allah."
Inilah akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Kursi adalah makhluk ciptaan Allah yang wujudnya nyata, letaknya berada di hadapan Arsy, dan berfungsi sebagai pijakan kedua Kaki Allah ﷻ. Tentu saja, kita wajib mengimaninya sesuai dengan kebesaran dan keagungan Allah, tanpa dibayangkan bentuknya (Takyif) dan tanpa diserupakan dengan pijakan makhluk (Tasybih). Ilmu Allah adalah Sifat-Nya, bukan makhluk, sedangkan Kursi adalah makhluk ciptaan-Nya.
3. Logika Dalil: Perbandingan Fisik Alam Semesta
Menafsirkan Kursi sebagai "Ilmu Allah" akan merusak logika dari hadits-hadits sahih lainnya yang mendeskripsikan anatomi ukuran alam semesta. Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَا السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ فِي الْكُرْسِيِّ إِلَّا كَحَلْقَةٍ مُلْقَاةٍ بِأَرْضِ فَلَاةٍ، وَفَضْلُ الْعَرْشِ عَلَى الْكُرْسِيِّ كَفَضْلِ تِلْكَ الْفَلَاةِ عَلَى تِلْكَ الْحَلْقَةِ»
"Tidaklah langit yang tujuh dibandingkan dengan Kursi kecuali seperti cincin besi yang dilemparkan di tengah padang pasir. Dan kebesaran Arsy di atas Kursi adalah seperti besarnya padang pasir tersebut dibandingkan cincin itu." (HR. Ibnu Hibban, disahihkan Al-Albani).
Mari kita renungkan dengan akal sehat: Jika Kursi ditakwil menjadi "Ilmu Allah", apakah masuk akal mengatakan "Langit yang tujuh di dalam Ilmu Allah itu ukurannya seperti cincin di padang pasir"? Dan apakah mungkin Ilmu Allah (sebagai Sifat Tuhan yang tak terbatas) ukurannya dibandingkan dan dikalahkan oleh besarnya Arsy (yang berstatus sebagai makhluk)? Tentu tidak logis.
Hadits ini secara mutlak membuktikan bahwa Kursi adalah makhluk fisik (benda) yang memiliki dimensi ukuran super masif, bukan sekadar kata kiasan untuk sebuah ilmu.
4. Waspada Potongan Teks dalam Kitab Tafsir
Sering kali tersebar gambar potongan dari kitab Tafsir At-Thabari di media sosial yang diklaim sebagai bukti bahwa Kursi adalah Ilmu. Mereka menunjuk teks pilihan At-Thabari, lalu menggarisbawahi tulisan "Shahih Al-Isnad" (Sanadnya Shahih) di bagian bawah halaman.
Ini adalah bentuk manipulasi ilmiah (Tadlis). Tulisan "Shahih Al-Isnad" di bagian bawah itu bukanlah tulisan Imam At-Thabari, melainkan Catatan Kaki (Footnote) dari Pentahqiq kitab (Syaikh Ahmad Syakir). Sang pentahqiq di dalam catatan kaki tersebut justru sedang meluruskan pendapat At-Thabari, dengan menegaskan bahwa riwayat yang sahih sanadnya adalah riwayat yang menyebutkan Kursi sebagai pijakan kaki (dari jalur Muslim Al-Bathin), bukan riwayat Ilmu!
Kesimpulan
Kaidah emas di dalam ilmu tafsir menyebutkan: Tafsir berdasarkan dalil atsar/hadits yang sahih harus selalu didahulukan di atas tafsir lughawi (pendekatan bahasa).
Oleh karena itu, penafsiran Kursi dalam Ayat Kursi sebagai "Ilmu" adalah penafsiran yang lemah secara sanad dan bertentangan dengan logika teks-teks syariat lainnya. Makna yang benar, kuat, dan dipegang oleh mayoritas ulama Salaf adalah: Kursi adalah makhluk fisik yang sangat luas tempat berpijak kedua kaki Allah ﷻ (Mawdhi' Al-Qadamayn). Maha Suci Allah dari segala keserupaan dengan makhluk-Nya.
Dapatkan Program Belajar Online dan Ebook Berkualitas di: ilmucenteracademy.com


Posting Komentar untuk "Makna "Kursi" dalam Ayat Kursi: Ilmu Allah atau Pijakan Kaki? (Sebuah Tahqiq Ilmiah)"
Posting Komentar
Santun dalam berkomentar, cermin pribadi anda