Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tata Cara Sholat Hari Raya

Tata Cara Sholat Hari Raya

A. Hari Raya Dalam Islam

Perayaan dalam Islam hanya ada dua macam yaitu Idul Fithri dan Idul Adha berdasarkan hadits:
عَنْ أَنَسٍ ، قَالَ: قَدِمَ النَّبِيُّ ﷺ وَلِأَهْلِ الْمَدِينَةِ يَوْمَانِ يَلْعَبُوْنَ فِيهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ، فَقَالَ: قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُوْنَ فِيهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ، وَقَدْ أَبْدَلَكُمُ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا: يَوْمُ النَّحْرِ وَيَوْمُ الْفِطْرِ
Dari Anas bin Malik berkata: "Tatkala Nabi datang ke kota Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari untuk bersenang gembira di waktu jahiliah, lalu beliau bersabda: 'Saya datang kepada kalian sedangkan kalian memiliki dua hari raya untuk bergembira di masa jahiliah. Dan sesungguh- nya Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik: Idul Adha dan Idul Fithri." (Shahih. Riwayat Ahmad 3/103, Abu Dawud No. 1134).

Adapun perayaan dan peringatan pada zaman sekarang tak terhitung jumlahnya baik di negeri muslim apalagi nonmuslim. Lihat saja betapa banyaknya perayaan yang diselenggarakan di kuburan, 

B. Makna Idul Fithri/Idul Adha

Ibnul Arabi mengatakan: "Id itu dinamakan 'id karena berulang setiap tahun dengan kegembiraan baru." (Lisanul Arab 3/319).

Al-Allamah Ibnu Abidin mengatakan: "Dinamakan 'id karena Allah menganugerahkan berbagai macam nikmat kepada hambaNya sebagaimana hari-hari biasa seperti bolehnya makan setelah diwajibkannya puasa, zakat fithri, kesempurnaan haji, daging sembe- lihan, dan sebagainya. Demikian pula karena pada hari tersebut tampak kesenangan dan kegembiraan pada manusia." (Hasyiyah Ibnu ’Abidin 2/165).

C. Sunnah-Sunnah Sebelum Shalat Hari Raya

1. Mandi

Ketahuilah bahwasanya tidak shahih semua hadits dari Rasulullah yang berkaitan tentang mandi dalam shalat dua hari raya. Imam al-Bazzar mengatakan: "Saya tidak mengetahui hadits shahih tentang mandi dua hari raya." (Ibnu Hajar dalam at-Talkhis 2/607.).

Akan tetapi, terdapat beberapa atsar dari sebagian sahabat yang menunjukkan hal ini. Di antaranya ialah dari Abdullah bin Umar bahwasanya beliau mandi di hari raya Idul Fithri ketika hendak pergi ke lapangan. (HR. Malik dalam al-Muwatha' (1/177)).

2. Berpakaian bagus

Al-Allamah Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata: “Nabi memakai pakaian terbagusnya untuk shalat hari raya. Beliau mempunyai pakaian khusus untuk shalat hari raya dan shalat Jum'at...( Zadul Ma’ad (1/441)).

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: "Ibnu Abi Dunya dan al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanad shahih bahwa Ibnu Umar memakai pakaian terbagusnya untuk shalat dua hari raya." (Fathul Bari 2/439.).

Imam Malik mengatakan: "Saya mendengar ahli ilmu, mereka mensunnahkan seorang memakai minyak wangi dan pakaian ba- gus pada setiap hari raya." (Al-Mughni 2/228 oleh Ibnu Qudamah).

3. Makan sebelum Idul Fithri
عَنْ أَنَسٍ ، قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ لَا يَغْدُوْ يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ
Dari Anas bin Malik berkata: "Rasulullah tidak berangkat pada Idul Fithri hingga beliau memakan beberapa kurma." (HR. Bukhari No. 953).

4. Tidak makan sebelum Idul Adha
عَنْ بُرَيْدَةَ ، قَالَ : كَانَ النَّبِيُّ ﷺ لَا يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَطْعَمَ، وَيَوْمَ النَّحْرِ لَا يَأْكُلُ حَتَّى يَرْجِعَ فَيَأْكُلَ مِنْ نَسِيكَتِهِ
Dari Buraidah berkata: "Nabi tidak keluar pada Idul Fithri hingga makan terlebih dahulu. Adapun pada Idul Adha beliau tidak makan hingga pulang dan makan dari daging kur- ban sembelihannya. " (Riwayat Tirmidzi No. 542).

Ibnu Qudamah berkata: "Demikianlah pendapat mayoritas ahli ilmu seperti Ali Ibnu Abbas, Syafi'i dan sebagainya. Saya tidak mendapati perselisihan pendapat tentangnya." (Al-Mughni 3/259).

5. Berjalan Kaki
عَنْ عَلِيِّ ، قَالَ: مِنَ السُّنَّةِ أَنْ تَخْرُجَ إِلَى الْعِيدِ مَاشِيًا
Dari Ali berkata: "Termasuk sunnah yaitu engkau keluar shalat hari raya dengan berjalan kaki." (Riwayat Tirmidzi No. 542).

Hikmahnya banyak sekali, di antaranya lebih menyemarakkan syi'ar Islam, merendahkan diri dan tidak sombong, menjalin kebersamaan, dan tidak mengganggu orang yang berjalan. Adapun kalau ada udzur, seperti tempat lapangannya jauh, sudah tua, atau sakit, maka boleh berkendaraan. Wallahu A'lam.

6. Menempuh jalan yang berbeda
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ . قَالَ : كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا كَانَ يَوْمَ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ
Dari Jabir bin Abdillah berkata: "Rasulullah apabila (berangkat dan pulang) pada hari raya mengambil jalan yang berbeda. (HR. Bukhari No. 986).

7. Takbir
كَانَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ، فَيُكَبِّرُ حَتَّى يَأْتِيَ الْمُصَلَّى، وَحَتَّى يَقْضِيَ الصَّلَاةَ، فَإِذَا قَضَى الصَّلَاةَ قَطَعَ التَّكْبِيرَ
"Nabi apabila pada hari raya Idul Fithri, beliau bertakbir hingga sampai di lapangan dan melaksanakan shalat. Apabila selesai shalat maka beliau memutus takbirnya." (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf).

Syaikh al-Muhaddits al-Albani mengomentari hadits di atas: "Dalam hadits ini terdapat dalil tentang disyari'atkannya takbir secara keras ketika berjalan menuju lapangan sebagaimana dikerjakan oleh kaum muslimin, sekalipun mayoritas mereka sudah mulai meremehkan sunnah ini... Akan tetapi, perlu kami sampaikan bahwa mengeraskan takbir di sini tidak disyari'atkannya secara bersama-sama dengan satu suara (dikomando) sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang. Demikian pula setiap dzikir yang disyari'atkan dengan suara keras atau lirih, maka tidak boleh dikerjakan secara jama'i (bersama-sama) dengan satu suara. Hendaknya kita waspada terhadap hal tersebut dan selalu kita ingat bahwa sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad”. (Silsilah Ahadits ash-Shahihah 1/121).

Dan tidak ada sifat takbir yang shahih dari Nabi. Hanya, terdapat beberapa riwayat dari sahabat, di antaranya dari Abdullah bin Mas'ud
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Inilah yang lebih masyhur yaitu membaca lafazh "Allahu Akbar" sebanyak dua kali, sekalipun shahih pula membacanya sebanyak tiga kali. Ibnu Abbas
اللهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ اللهُ أَكْبَرُ وَأَجَلُ اللهُ أَكْبَرُ عَلَى مَا هَدَانَا
Salman al-Khair
اللهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا
D. Shalat Hari Raya

Tibalah saatnya sekarang pembicaraan kita tentang shalat hari raya, hukum, waktu, tempat sifat, dan hukum-hukum lainnya yang berkaitan dengan shalat hari raya. Berikut ini kami sampaikan secara ringkas dengan berusaha memilih pendapat yang lebih kuat-insya Allah-tanpa taklid kepada seorang pun.

1. Hukumnya

Shalat hari raya hukumnya fardhu 'ain menurut pendapat yang lebih kuat berdasarkan hadits:
عَنْ أُمَّ عَطِيَّةَ ، قَالَتْ: أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللَّهِ ﷺ أَنْ تُخْرِجَهُنَّ فِي الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى الْعَوَاتِقَ وَالْحُيَّضَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ، فَأَمَّا الْخَيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الْمُصَلَّى وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ. قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِحْدَانَا لَا يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ، قَالَ: لِتُلْبِسَهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا
Dari Ummu Athiyyah berkata: "Rasulullah memerintahkan kepada kami untuk mengeluarkan gadis-gadis yang menjelang usia baligh, wanita-wanita yang tengah haid, dan gadis-gadis pingitan pada hari raya Idul Fithri dan Idul Adha. Adapun wanita yang haid, mereka menjauhi tempat shalat dan menghadiri kebaikan dan undangan kaum muslimin. Saya berkata: 'Wahai Rasulullah, seorang di antara kami tidak memiliki jilbab, apakah dia diperbolehkan tidak berangkat?" Rasulullah menjawab: 'Hendaknya temannya meminja- minya jilbab sehingga mereka menyaksikan kebaikan dan un- dangan kaum muslimin. (HR. Bukhari No. 351, Muslim No. 890).
عَنْ أُخْتِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ رَوَاحَةَ الْأَنْصَارِيِّ ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ أَنَّهُ قَالَ : وَجَبَ الْخُرُوجُ عَلَى كُلِّ ذَاتِ نِطَاقٍ يَعْنِي فِي الْعِيدَيْنِ
Dari saudarinya Abdullah bin Rawahah al-Anshari dari Rasulullah bersabda: "Wajib keluar bagi setiap orang yang punya nithaq (pakaian sejenis sarung/rok yang ada pengikatnya) yakni pada dua hari raya." (Hasan. Riwayat ath-Thayyalisi 1/146).
قَالَ أَبُو بَكْرِ الصَّدِّيقُ : حَقٌّ عَلَى كُلِّ ذَاتِ نِطَاقٍ الْخُرُوجُ إِلَى العيدين
Abu Bakar ash-Shiddiq berkata: "Kewajiban bagi setiap 1391 yang punya nithaq untuk keluar shalat dua hari raya." (Shahih. Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf 2/184).

Hal ini merupakan pendapat Abu Hanifah, juga salah satu pendapat Syafi'i dan Ahmad. Pendapat ini juga dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, asy-Syaukani, Shidiq Hasan Khan," ash-Shan'ani, al-Albani," dan lain-lain.

2. Tempatnya

Menurut sunnah yang selalu diamalkan oleh Rasulullah dan para khalifah sepeninggal beliau, tempat pelaksanaan shalat hari raya adalah di lapangan. Kecuali apabila ada udzur, seperti hujan, maka boleh di masjid. Pendapat ini dikuatkan oleh mayoritas ulama.

Syaikh al-Allamah Ahmad Syakir menukil pendapat ulama madzhab tentang sunnahnya shalat hari raya di lapangan. Di antaranya:

Dalam al-Fatawa al-Hindiyyah (1/118) dinyatakan: "Shalat hari raya ke tanah lapang adalah sunnah sekalipun masjid cukup bagi mereka. Demikianlah pendapat para ulama dan inilah pendapat yang benar."

Dalam al-Mudawwanah (1/171) diceritakan bahwa Imam Malik berkata: "Tidak boleh melaksanakan shalat hari raya di dua tempat dan di masjid, tetapi hendaknya di tanah lapang sebagaimana dikerjakan oleh Nabi dan para penduduk negeri."

Ibnu Qudamah al-Hanbali : "Menurut sunnah shalat hari raya adalah di lapangan. Hal ini diperintahkan oleh Ali (bin Abi Thalib) dan dianggap baik oleh al-Auza'i, ulama Hanafiyyah, dan Ibnul Mundzir." (Al-Mughni 2/229–230).

Syaikh Ahmad Syakir mengatakan: "Hadits-hadits shahih menunjukkan bahwa Nabi shalat hari raya di lapangan dan diteruskan oleh generasi selanjutnya. Tidak pernah mereka melaksanakan shalat hari raya di masjid kecuali apabila ada udzur seperti hujan atau selainnya. Inilah madzhab imam empat dan ahli ilmu lainnya. Saya tidak mengetahui seorang ulama pun yang menyelisihi hal itu kecuali pendapat Syafi'i yang memilih shalat di masjid apabila mencukupi penduduk negeri. Kendatipun demikian, beliau membolehkan shalat di lapangan walaupun masjid mencukupi mereka, bahkan secara tegas beliau membenci shalat hari raya di masjid apabila masjidnya tidak mencukupi penduduk negeri. Shalat di lapangan mempunyai hikmah yang sangat dalam yaitu kaum muslimin mem- punyai dua hari dalam setahun untuk saling bertemu dengan sauda- ra lainnya, baik pria, wanita, dan anak-anak guna bermunajat kepada Allah dengan satu kata, shalat di belakang satu imam, bertakbir, bertahlil, dan berdo'a kepada Allah secara ikhlas seakan-akan mereka satu hati. Mereka semua bergembira akan kenikmatan Allah sehingga hari raya memiliki makna yang berarti." (Shalatul ’Idain fil Mushalla Hiya Sunnah hlm. 37 al-Albani).

3. Waktunya

Waktunya yaitu ketika matahari naik setinggi tombak. Afdhalnya, mempercepat shalat Idul Adha di awal waktu supaya manusia lekas melaksanakan sembelihan kurban dan mengakhirkan shalat Idul Fithri agar supaya manusia merasa longgar dalam mengeluarkan zakat fithr. Adapun batas akhir waktunya adalah sesudah tergelincinya matahari. (Zadul Ma’ad 1/442 Ibnu Qayyim).

Akan tetapi, apabila kabar datangnya hari 'id baru sampai pada- nya ketika waktu sudah habis, maka shalat 'id ditunda besok hari- nya berdasarkan hadits:
عَنْ أَبِي عُمَيْرِ بْنِ أَنَسٍ، عَنْ عُمُوْمَةٍ لَهُ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيَّ ﷺ يَشْهَدُوْنَ أَنَّهُمْ رَأَوُا الْهِلَالَ بِالأَمْسِ، فَأَمَرَهُمْ أَنْ يُفْطِرُوْا، وَإِذَا أَصَبَحُوا أَنْ يَغْدُوْا إِلَى مُصَلَّاهُمْ
Dari Abu Umair bin Anas dari paman-pamannya yang termasuk sahabat Nabi bahwasanya mereka menyaksikan hilal pada hari kemarin, maka Nabi memerintahkan kepada mereka supaya berbuka dan di waktu paginya supaya pergi ke lapangan. (HR. Abu Dawud No. 1157).

4. Apakah ada shalat sebelum dan sesudahnya?

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ : أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ صَلَّى يَوْمَ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ، لَمْ يُصَلُّ قَبْلَهَا وَلَا بَعْدَهَا
Dari Ibnu Abbas berkata: "Nabi shalat Idul Fithri dua raka'at, beliau tidak shalat sebelum dan sesudahnya..." (HR. Bukhari No. 989).

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: "Kesimpulannya, tidak ada shalat sunnah sebelum dan sesudahnya, berbeda halnya dengan orang yang menyamakannya dengan Jum'at." (Fathul Bari 2/476).

Akan tetapi, ada riwayat yang zhahirnya bertentangan dengan hadits di atas:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ ، قَالَ : كَانَ النَّبِيُّ ﷺ لَا يُصَلَّى قَبْلَ الْعِيدِ شَيْئًا، فَإِذَا رَجَعَ إِلَى مَنْزِلِهِ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ
Dari Abu Sa'id berkata: "Rasulullah tidak pernah shalat sebelum 'id, tetapi apabila pulang ke rumahnya beliau shalat dua raka'at." (Riwayat Ibnu Majah No. 1293).

Cara mengkompromikan antara kedua hadits tersebut yaitu peniadaan pada hadits pertama di atas khusus di lapangan saja, bukan di rumah sebagaimana dijelaskan al-Hafizh Ibnu Hajar dalam at-Talkhis hlm. 144 dan disetujui al-Albani dalam Irwa'ul Ghalil, Demikian pula apabila shalat 'id diselenggarakan di masjid karena hujan misalnya, maka boleh seseorang shalat tahiyatul masjid. (Fatawa Lajnah Da'imah 8/305).

5. Apakah ada adzan dan iqamat?
عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ ، قَالَ : صَلَّيْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللَّهِ ﷺ العِيدَيْنِ غَيْرَ مَرَّةٍ، وَلَا مَرَّتَيْنِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلَا إِقَامَةٍ
Dari Jabir bin Samurah berkata: "Saya shalat dua hari raya bersama Rasulullah tidak hanya sekali atau dua kali tanpa ada adzan dan iqamat." (HR. Muslim No. 887 ).

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata: "Nabi apabila sampai ke tanah lapang, beliau memulai shalat tanpa adzan dan iqamat serta ucapan الصَّلاءُ جَامِعَةٌ Menurut sunnah, semua itu tidak usah dilakukan. (Zadul Ma’ad 1/442), Bahkan Imam ash-Shan'ani menegaskan kebid'ahannya. (Subulus Salam 2/67).

6. Sifat shalat hari raya

Adapun sifat-sifat shalat hari raya adalah sebagai berikut:

a) Dua Raka'at

Hal ini berdasarkan riwayat Umar
عَنْ عُمَرَ ، قَالَ : صَلَاةُ السَّفَرِ رَكْعَتَانِ، وَصَلَاةُ الْأَضْحَى رَكْعَتَانِ، وَصَلَاةُ الْفِطْرِ رَكْعَتَانِ، تَمَامُ غَيْرُ قَصْرٍ، عَلَى لِسَانِ محمد
Dari Umar berkata: "Shalat safar itu dua raka'at, shalat dhuha itu dua raka'at, dan shalat hari raya itu dua raka'at, sempurna tanpa dikurangi menurut lisan Muhammad." (Shahih. Riwayat Ahmad 1/37, Nasa'i 3/183).

b) Takbiratul Ihram kemudian takbir tujuh kali pada raka'at pertama dan lima kali pada raka'at kedua.

عَنْ عَائِشَةَ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ يُكَبِّرُ فِي الفِطْرِ وَالْأَضْحَى فِي الْأَوْلَى سَبْعُ تَكْبِيرَاتٍ وَفِي الثَّانِيَةِ خَمْسًا سِوَى تَكْبِيرَتي الرُّكُوعِ
Dari Aisyah bahwasanya Rasulullah bertakbir pada shalat Idul Fithri dan Idul Adha pada raka'at pertama tujuh takbir dan pada raka'at kedua lima kali takbir selain dua takbir rukuk." (Shahih. Riwayat Abu Dawud No. 1150).

Imam al-Baghawi berkata: "Inilah pendapat mayoritas ahli ilmu dari kalangan sahabat dan generasi setelahnya yaitu takbir tujuh kali pada raka'at pertama selain takbir iftitah dan lima tak- bir pada raka'at kedua selain takbir berdiri sebelum membaca. Pendapat ini diriwayatkan dari Abu Bakar, Umar, Ali, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Abu Said al-Khudri, dan ini juga merupakan pendapat ahli Madinah dan Zuhri, Umar bin Abdul Aziz, Malik, al-Auza'i, Syafi'i, Ahmad, dan Ishaq (bin Rahawaih)." (Syarhus Sunnah 4/309).

c) Mengangkat tangan ketika takbir

Tidak ada hadits yang jelas tentang mengangkat tangan pada shalat hari raya, tetapi kami berpendapat sunnahnya mengangkat tangan ini berdasarkan keumuman hadits:
عَنْ وَايْلِ بْنِ حُجْرٍ ، قَالَ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ يَرْفَعُ يَدَيْهِ مَعَ التكبير
Dari Wa'il bin Hujr berkata: "Saya melihat Rasulullah mengangkat tangannya bersamaan dengan takbir." (Hasan. Riwayat Ahmad 4/316).

Ibnul Qayyim berkata: "Dan adalah Ibnu Umar salah seorang sahabat yang sangat bersemangat mengikuti sunnah mengangkat tangannya pada setiap takbir." (Zadul Ma’ad 1/443).

Imam Ahmad bin Hanbal berkata: "Saya berpendapat bahwa hadits ini meliputi juga takbir pada shalat hari raya." (Al-Mughni 3/273).

Ibnu Qudamah menguatkan pendapat ini seraya mengatakan: "Inilah pendapat Atha', al-Auza'i, Abu Hanifah, dan Syafi'i." (Al-Mughni 3/272).

Al-Firyabi meriwayatkan dalam Ahkamul 'Idain (2/136) dengan sanad shahih dari Walid bin Muslim, dia berkata: "Saya bertanya kepada Imam Malik bin Anas tentangnya (mengangkat tangan pada takbir tambahan), maka beliau menjawab: 'Ya, angkatlah tanganmu pada setiap takbir dan saya tidak mendengar tentangnya.'

Pendapat mengangkat tangan ini juga dipilih oleh Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz dan para ulama lainnya. (Lihat Fatawa Lajnah Da'imah 8/32).

d) Membaca do'a di sela-sela takbir

Tidak ada penukilan dari Nabi tentang bacaan di sela-sela takbir. Akan tetapi, telah shahih dari Ibnu Mas'ud bahwa bacaannya adalah pujian kepada Allah dan shalawat kepada Nabi serta do'a, dan ini dibenarkan oleh Sahabat Hudzaifah dan Abu Musa al-Asy'ari. (Riwayat ath-Thabarani dalam al-Mu’jamul Kabir 3/37), Beliau membaca:
سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، وَاَللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَارْحَمْنِي
Al-Baihaqi berkata setelah meriwayatkan atsar ini (3/291): "Ucapan Abdullah bin Mas'ud ini hanya terhenti padanya, dan kami mengikutinya tentang dzikir antara dua takbir, sebab tidak ada pengingkaran dari sahabat lainnya..." Inilah pendapat Imam Ahmad bin Hanbal dan Syafi'i serta dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. (al-Mughni 3/274).

e) Membaca al-Fatihah dan surat

Apabila telah selesai takbir, selanjutnya hendaknya membaca Surat al-Fatihah secara keras dan membaca Surat Qaf pada raka'at pertama dan al-Qamar pada raka'at kedua. (HR. Muslim No. 891).

Sunnah juga apabila membaca Surat al-A'la dan al-Ghasyiyah. Ibnul Qayyim mengatakan: "Telah shahih dari Nabi kedua bacaan tersebut dan tidak shahih selain dua bacaan tersebut." (Zadul Ma’ad 1/443).

f) Gerakan lainnya seperti sifat shalat biasa lainnya, tidak ada perbedaan.

7. Ketinggalan shalat hari raya

Orang yang ketinggalan shalat hari raya secara jama'ah hendaknya shalat dua raka'at. Imam Bukhari membuat bab dalam Shahihnya "Bab apabila seorang ketinggalan shalat 'id maka shalat dua raka'at". Berkata Atha': "Apabila ketinggalan shalat 'id maka shalat dua raka'at."

Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan: "Dalam judul bab ini terdapat dua hukum:
- Disyari'atkannya shalat 'id bagi orang yang ketinggalan secara jama'ah, baik karena urusan dharuri ataukah tidak.
- Menggantinya sebanyak dua raka'at." (Fathul Bari 2/550).

Imam Malik berkata: "Setiap orang yang shalat 'id sendirian, baik laki-laki maupun perempuan, menurut saya dia takbir tujuh kali pada raka'at pertama sebelum membaca dan lima kali pada raka'at kedua sebelum membaca," (Al-Muwatha' No. 592).

8. Takbir hukumnya sunnah

Apabila seorang meninggalkannya baik secara sengaja maupun lupa, maka tidak membatalkan shalat tanpa ada perselisihan pendapat di kalangan ulama sekalipun tidak ragu lagi bahwa orang yang mening- galkannya jelas menyelisihi sunnah. (al-Mughni 2/244 Ibnu Qudamah.).

E. Khotbah Hari Raya

Setelah shalat selesai, hendaknya ada khotbah berdasarkan hadits:
عَنَ ابْنِ عَبَاسٍ ، قَالَ: شَهِدْتُ الْعِيدَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ، فَكُلُّهُمْ كَانُوا يُصَلُّوْنَ قَبْلَ الْخُطْبَةِ
Dari Ibnu Abbas berkata: "Saya menyaksikan 'id bersama Rasulullah, Abu Bakar, Umar, dan Utsman Mereka semua shalat lebih dulu sebelum khotbah." (HR. Bukhari No. 962,).

Inilah sunnah yang dipraktikkan oleh para sahabat dan para ulama salaf hingga sekarang.

Dan hendaknya para khatib menggunakan kesempatan emas ini untuk membimbing umat dan menjelaskan pada mereka tentang pokok-pokok agama dan ketakwaan, lebih utamanya adalah masalah tauhid dan syirik. Dan janganlah membicarakan masalah-masalah yang tidak ada gunanya seperti politik ala kuffar, mengkritik pemerintah, filsafat, tasawuf, dan sebagainya.

Khotbah 'id itu hanya sekali, bukan dua kali seperti khotbah Jum'at. Adapun hadits mengenai khotbah 'id dua kali derajatnya dha'if jiddan (lemah sekali). (Lihat Sunan Tirmidzi 2/411.).

F. Bila Hari Raya Bertepatan Dengan Hari Jum'at

1. Tidak wajib shalat Jum'at

Apabila hari raya bertepatan dengan hari Jum'at maka bagi orang yang melaksanakan shalat 'id tidak wajib shalat Jum'at. Namun, hendaknya imam mengadakan shalat Jum'at supaya orang yang ingin shalat Jum'at dan yang belum shalat 'id ikut serta shalat bersamanya. Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah
قَدِ اجْتَمَعَ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا عِيدَانِ، فَمَنْ شَاءَ أَجْزَاهُ عَنِ الْجُمُعَةِ وَإِنَّا مُجَمَّعُوْنَ
"Pada hari ini telah berkumpul dua hari raya pada kalian, maka barang siapa ingin, sesungguhnya tidak wajib Jum'at baginya, tetapi kami melaksanakannya." (asy-Syaukani dalam Nailul Authar 3/291).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: "Inilah pendapat terku- at yang dinukil dari Nabi dan para sahabatnya seperti Umar, Utsman, Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, dan sebagainya. Dan tidak ada pengingkaran dari sahabat lainnya." (Majmu’ Fatawa 24/211).

Adapun bagi yang tidak melaksanakan shalat hari raya, maka dia berkewajiban melaksanakan shalat Jum'at.

2. Bagi yang tidak shalat Jum'at karena telah shalat 'id tetap wajib shalat zhuhur

Masalah ini diperselisihkan oleh para ulama. Mayoritas ulama berpendapat bahwa orang yang tidak shalat Jum'at tetap wajib mengerjakan shalat zhuhur.

G. Ucapan Selamat

Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: "Kami meriwayatkan dari guru-guru kami dalam 'al-Mahamiliyyat dengan sanad hasan dari Jubair bin Nufair, beliau berkata:
كَانَ أَصْحَابُ رَسُوْلِ اللَّهِ ﷺ إِذَا الْتَقَوْا يَوْمَ الْعِيدِ بِقُوْلُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ
"Para sahabat Rasulullah apabila mereka saling jumpa pada hari raya, sebagian mereka mengucapkan kepada lainnya: 'Se- moga Allah menerima amalanku dan amalanmu.'" (Fathul Bari 2/446).

Ibnu Qudamah juga menyebutkan dalam al-Mughni 2/259 bahwasanya Muhammad bin Ziyad mengatakan:
كُنْتُ مَعَ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ ، وَغَيْرِهِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ ﷺ فَكَانُوْا إِذَا رَجَعُوْا مِنَ الْعِيدِ يَقُوْلُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ
"Saya pernah bersama Abu Umamah al-Bahili dan para sahabat Nabi lainnya, apabila mereka kembali dari 'id, sebagian mereka berucap kepada lainnya: 'Semoga Allah menerima amalanku dan amalanmu.”

(Imam Ahmad berkata: "Sanad hadits Abu Umamah jayyid (ba- gus)." Imam Suyuthi juga berkata dalam al-Hawi (1/81): "Sanadnya hasan, " (Tamamul Minnah hlm. 354–356 al-Albani.).

Demikianlah pembahasan yang dapat kami sajikan. Mudah-mudahan Allah memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua. Amin.




Post a Comment for "Tata Cara Sholat Hari Raya"