Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

SEJARAH KOTA MAKKAH DAN MADINAH

SEJARAH KOTA MAKKAH DAN MADINAH

Bismillahirrahmanirrahim.
Kaum Muslimin Rahimani Warahimakumullah.

Pada abad ke 9 sebelum masehi, Nabi Ibrahim. keluar dari kampung halamannya di Syam menuju tanah Hijaz, menuju suatu lembah yang gersang, tidak memiliki tanaman, dan dipagari bukit-bukit berbatu. Di sinilah lahir sebagian dari keturunan Nabi Ibrahim, mengemban dakwah tauhid, dan kemudian tersebar ke seluruh penjuru dunia. Di kemudian hari negeri tersebut disebut Makkah."

Memang Makkah adalah daerah yang gersang tidak memiliki tumbuhan, cuaca yang terik dengan curah hujan yang rendah, namun daerah ini memiliki tempat tersendiri di hati umat Islam, wilayah ini dan penduduknya senantiasa dirindukan oleh hati-hati orang yang beriman diseluruh penjuru dunia

Allah berfirman:
{ رَّبَّنَاۤ إِنِّیۤ أَسۡكَنتُ مِن ذُرِّیَّتِی بِوَادٍ غَیۡرِ ذِی زَرۡعٍ عِندَ بَیۡتِكَ ٱلۡمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِیُقِیمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱجۡعَلۡ أَفۡـِٔدَةࣰ مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهۡوِیۤ إِلَیۡهِمۡ وَٱرۡزُقۡهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَ ⁠تِ لَعَلَّهُمۡ یَشۡكُرُونَ }
Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menem- patkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka. mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS. Ibrahim: 37).

Asal Usul Nama Kota Mekkah

Makkah, namanya berasal dari kata "imtakka" yang artinya mendesak atau mendorong. Kota ini disebut Makkah karena manusia berdesakan di sana. (Mu'jam al-Buldan, kata: Makkah. Lihat pula tafsir Ibnu Katsir 2/78, Tahqiq: Sami as-Salamah).

Dalam Al-Quran Allah menyebutnya dengan "Bakkah". Allah berfirman,
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ
Sesungguhnya rumah yang pertama kali diba- ngun (di bumi) untuk (tempat beribadah) manusia adalah Baitullah di Bakkah (Mekah) yang memiliki berkah dan petunjuk bagi seluruh alam. (QS. Ali Imran: 96).

Sejarah Madinah dan Perjuangan Hijrah

Kota Madinah dahulunya bernama Yatsrib, itu merupakan kota yang dipilih oleh Allah untuk menjadi tempat hijrah Nabi terakhir-Nya Muhammad, bahkan juga merupakan kota tempat peristirahan terakhir baginda yang mulia.

Nabi bersabda:
أمرت بقرية تأكل القُرَى يَقُولُونَ يَثْرِبَ وَهيَ الْمَدِينَةُ
"Aku diperintahkan untuk hijrah ke sebuah kota yang menaklukkan kota-kota yang lain, mereka menamakan kota tersebut dengan Yatsrib, padahal namanya adalah Al- Madinah". (HR. Bukhari, No: 1871, Muslim, No: 3419)

Kota Madinah memiliki berjuta kenangan nan indah bersama baginda yang mulia serta keluarga dan para sahabatnya, mulai dari Nabi hijrah ke Madinah sampai Nabi dipanggil oleh Allah, oleh karenanya sudah semestinya bagi kita mengetahui sejarah Madinah tersebut.

Sebelum Nabi hijrah ke sana, Madinah merupakan kota yang ditempati oleh beberapa suku besar, seperti suku al-Aus dan al-Khazraj dan beberapa suku bangsa-bangsa Yahudi lainnya: seperti Bani Nadhir, Bani Quraizhah dan Bani Qoynuqo'.

Mereka yang menempatinya pun tidak terlepas dari bentrokan dan permusahan yang tidak berujung, saling memusuhi antara satu kabilah dengan yang lainnya sudah menjadi kebiasaan dan tidak sedikit dari mereka yang merenggang nyawa akibat dari pertikaian yang tidak berkesudahan, adapun puncak dari pertikaian antara mereka dinamakan dengan peperangan Bu'ast. peperangan yang menewaskan setiap kepala suku dan ratusan dari pengikutnya, dan itu terjadi lima tahun sebelum Nabi hijrah ke kota Madinah. Itulah yang disebutkan oleh Nabi dikala mengumpulkan orang-orang Madinah (Kaum Anshor), Nabi pun menyebutkan:
يا معشر الأنصار ألم أجدكم ضلالاً فهداكم الله بي وعالة فأغناكم الله بي، ومتفرقين فَجَمَعَكُمُ اللَّهُ بي
"Wahai sekalian orang-orang Anshor, bukankah aku mendapatkan kalian dalam keadaan tersesat maka Allah pun memberikan petunjuk melalui diriku, kalian berada dalam kefakiran maka Allah pun mencukupkan melalui diriku, dan kalian berpecah belah maka Allah pun menyatukan kalian dengan diriku." (HR. Bukhari, No: 4330, Muslim No: 2493)

Perpecahan dan pertikaian itu bisa berakhir dikala ada sebagian mereka yang pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji pada tahun kedua belas dari kenabian: mereka berjumpa dengan Nabi di sebuah lembah Mina yang bernama 'Aqobah, setibanya disana; maka Nabi menawarkan Islam dan membacakan ayat-ayat Al-Qur'an yang membuat hati mereka luluh lagi tersentuh dengan kalimat-kalimat Allah yang tidak pernah mereka dengar sebelumnya, ayat-ayat yang langsung masuk dan menusuk ke dalam hati yang tidak bisa disembunyikan keindahannya.

Meraka pun beriman kepada Allah dan jatuh hati kepada Nabi-Nya serta langsung melakukan sumpah setia kepada baginda yang mulia, atau lebih di kenal dengan Bai'at 'Aqobah pertama yang terdiri dari dua belas orang berasal dari Yatsrib atau Madinah.

Di antara sumpah setia mereka kepada baginda Nabi adalah sebagaimana yang dipaparkan oleh sahabat Jabir bin Abdillah Radiyallahu 'anhu
بما لقي رسول الله صلى الله عليه وسلم النقباء من الأنصار، قال لهم: تؤووني وتمنعوني قَالُوا: فَمَا لَنَا ؟ قَالَ: لَكُم الجنة
"Ketika Nabi berjumpa dengan pemuka-pemuka Anshor Nabi mengatakan kepada mereka: kalian menaungi dan melindungiku (dari orang-orang musyrikin), mereka pun bertanya: apa ganjaran yang kami dapatkan?, maka Nabi pun menjawab: surga untuk kalian."! (al Matholib al 'Aliyah, Ibnu Hajar (12/172).

Setelahnya mereka pulang ke kota Madinah, dan kembali berjanji untuk berjumpa dengan Nabi di tempat yang sama pada musim haji berikutnya.

Pada tahun ketiga belas dari kenabian, meraka kembali berjumpa dengan Nabi pada hari-hari tasyrik di lembah 'Aqobah dengan jumlah yang lebih banyak dibandingkan pada pertemuan sebelumnya, kaum Anshor yang datang untuk berjumpa dan bersumpah setia dengan Nabi jumlahnya terdiri dari tujuh puluh dua (72) laki-laki dan dua (2) wanita, setelahnya pun mereka kembali ke Madinah.

Sebelum kembali ke Madinah; mereka meminta kepada Nabi untuk mengirim utusan yang akan mengajarkan ayat-ayat Al-Qur'an, Nabi pun menunjuk salah seorang sahabat yang diberikan tugas mengajarkan Al-Qur'an kepada orang-orang Madinah, yaitu Mus'ab bin Umair Radiyallahu 'anhu

Sesampainya Mus'ab bin Umair di Madinah; dia pun melaksanakan serta menjalankan visi dan misi dengan mengajar penduduk Madinah Al-Qur'an, sehingga dia mendapatkan sebutan al-Muqri'.

Di samping mengajar Al-Qur'an; Mus'ab bin Umair juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengajak penduduk Madinah masuk ke dalam Islam, memperkenalkan indahnya Islam, mulianya baginda Nabi, serta agungnya ajaran-ajaran beliau, sehingga penduduk Madinah sedikit demi sedikit memeluk Islam, dan pada akhirnya tidak ada di antara pintu rumah penduduk Madinah melainkan mereka sudah mengenal dan masuk Islam.

Namun disatu sisi; Nabi senantiasa dipersulit dakwahnya di kota Makkah, puncak dari pengekangan dakwah tersebut adalah ketika orang-orang Qurays berkumpul di Darun Nadwah untuk merencanakan pembunuhan Nabi yang dibantu oleh Iblis yang menjelma menjadi seorang manusia tua lagi berwibawa, sehingga Allah pun mengizinkan Nabi-Nya untuk meninggalkan Makkah menuju kota Madinah.

Sebelum meninggalkan Makkah; Nabi berpesan kepada Ali bin Abi Thalib untuk tidur di rumahnya dalam waktu beberapa hari dengan menggunakan selimut yang biasa dipakai oleh Nabi , tujuannya untuk mengembalikan titipan (harta benda) orang- orang Qurays yang dahulu pernah dititipkan kepada Nabi.

Nabi keluar bersama sahabatnya Abu Bakar meninggalkan Makkah, dikala Nabi berdiri di sebuah tempat yang bernama al- Khazwaruh (pasar yang ada di Makkah); Nabi berbicara kepada kota Makkah seolah mengungkapkan perasaan dan isi hatinya seraya berkata:
واللهِ إِنَّكِ خَيْر أَرْضِ الله، وَأَحَبّ أَرْضِ الله إلى الله، وَلَوْلَا أَني أُخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ
"Demi Allah; sesungguh nya engkau bumi Allah yang paling baik, dan tanah yang paling Allah sukai, kalaulah seandainya aku tidak diusir maka aku tidak akan meninggalkan mu" (HR. Imam at-Tirmidzi, No: 3925).

Sebelum melakukan perjalan panjang menuju Madinah; Nabi singgah di sebuah bukit yang bernama Tsur, untuk menghindari pencarian orang-orang Qurays, setelah beberapa hari dan merasa keadaan sudah sedikit aman baru Nabi dan sahabatnya Abu Bakar menuju Madinah dengan bimbingan salah seorang penunjuk jalan yang sudah disewa oleh Abu Bakar bernama Abdullah bin Uraiqit al-Layts.

Delapan hari lamanya Nabi dan sahabatnya Abu Bakar berjuang melakukan perjalanan dari Makkah menuju Madinah, perjalanan panjang yang melelahkan, terik matahari dan gelapnya malam harus mereka lewati demi membawa agama yang Allah amanahkan, hingga pada akhirnya Nabi sampai dan singgah untuk beberapa hari di sebuah daerah yang bernama Quba.

Seorang tabi'in yang juga merupakan cucu dari sahabat Abu Bakar yang bernama 'Urwah bin Zubair memaparkan keadaan dan kerinduan yang mendalam orang-orang Madinah dikala mendengar kabar Nabi akan hijrah ke kota mereka, dia pun memaparkan cerita yang terjadi kepada Nabi dan kakeknya tersebut sambil mengucapkan:

"Bahwasanya Zubair bin Awwam berjumpa dengan Nabi dan Abu Bakar, Zubair memakaikan pakaian putih untuk Nabi dan Abu Bakar, sedangkan orang-orang Madinah sudah mendengar berita bahwa Nabi akan hijrah dari Makkah menuju Madinah, sehingga setiap hari (dari pagi sampai siang) mereka menunggu kedatangan Nabi, pada suatu hari ketika orang orang sedang berlindung di dalam rumah karena terik matahri yang menyengat; naiklah salah seorang Yahudi di atas pagar benteng, dia melihat Nabi dan sahabatnya yang berpakaian putih dari kejauhan, dia berseru dengan suara yang lantang:

"Wahai orang-orang arab (kaum Anshor); inilah orang yang selalu kalian tunggu kedatangan nya sudah tiba", Penduduk Madinah pun menyandang pedang-pedangnya untuk menyambut Nabi sekaligus melindungi Nabi, mereka menyonsong dan menyambut Nabi di tempat yang tidak jauh dari Quba, dan menetap sementara waktu di kediaman kabilah Bani Amr bin Auf bin Malik al-Ausy di rumah sahabat yang bernama Kultsum bin al-Hidm lebih dari sepuluh hari lamanya.

Dan itu terjadi pada hari senin diakhir waktu dhuha bulan Rabi'ul Awwal tahun pertama hijrah Nabi ke kota Madinah.

Setelah Nabi dan para sahabatnya membangun masjid Quba; serta menetap di dalamnya untuk beberapa hari; maka pada hari jum'at Nabi menuju lokasi masjid Nabawi yang di sanalah Nabi akan membangun masjidnya." (HR. Bukhari, No: 3906).

Setelah Nabi sampai di Madinah, para sahabat berebutan menyambut Nabi dan menawarkan rumah untuk ditempati oleh baginda yang mulia; pada akhirnya Nabi menginap beberapa hari di rumah salah seorang sahabat Anshor yang bernama Abu Ayyub al-Anshori Radiyallahu 'anhu.

Kebahagian yang luar biasa yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya dengan kedatangan Nabi dan sahabatnya di kota Madinah, Allah pun menyebutkan sifat mereka dalam kalam-Nya:
يحبون من هاجر اليهم
"Mereka (orang-orang Anshor) suka kepada orang-orang yang hijrah ke tempatnya." (QS. Al-Hasyr : 9).

Kalau seandainya begitu kuat dan dahsyat kecintaan mereka terhadap orang-orang Muhajirin, maka kecintaan mereka kepada Nabi tentunya lebih luar biasa lagi, itu terlihat dari cara mereka menyambut dan menunggu kedatangan Nabi; bahkan rela setiap hari berpanas-panasan untuk menanti Nabi terakhir tersebut.

Sebagaimana juga kebahagiaan dan riang gembira ini digambarkan oleh sahabat Barra bin 'Azib Radiyallahu 'anhu:
فما رأيت أهل المدينة فرحوا بشيء فرحهم برسول الله صلى الله عليه وسلم.
"Aku tidak pernah menyaksikan kegembiaraan luar biasa yang dirasakan oleh penduduk Madinah melebihi kegembiraan mereka dengan kedatangan Rasulullah (HR. Bukhari, No: 3925).

Demikian pula apa yang disebutkan oleh sahabat Anas bin Malik ketika menyaksikan kota Madinah dan penduduknya seolah-olah mereka ibarat disinari oleh cahaya nan indah; padahal sebelumnya mereka berada dalam kegelapan dan tanpa arah serta tujuan yang jelas:
لَمَّا كَانَ اليَوْمُ الَّذِي دَخلَ فِيهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المَدِينَةِ أَضَاءَ مِنْهَا كُل شيء
"Dihari yang mana Rasulullah memasuki kota Madinah, maka semuanya berkilau dan bercahaya" (HR. Imam at-Tirmidzi, No: 3618, dan Imam Ibnu Majah, No: 1631).

Dari pemaparan sahabat inilah kota Madinah juga disebut dengan Al-Madinah Al-Munawwaruh yang artinya adalah kota Madinah yang memberikan pancaran cahaya, yang maksudnya adalah Nabi itu sendiri memberikan cahaya iman di kota Madinah serta menanamkan ketaqwaan kepada penduduknya.

Sebelum Nabi sampai di Madinah, sudah ada beberapa sahabat telah mendahului Nabi untuk berhijrah kesana, di antaranya adalah sahabat Mus'ab bin Umair, Abdullah bin Umi Maktum, Sa'ad bin Abi Waqqos, Ammar bin Yasir, Bilal bin Rabah dan Umar bin Khattab radiyallahu 'anhum yang membawa sekitar duapuluh orang sahabat Nabi lainnya. Maka berkumpullah di Madinah kaum Muhajirin dan Anshor yang selalu dan senantiasa setia bersama Nabi, penyebaran dakwah Islam dimulai dengan membangun masjid Nabawi yang akan menjadi markas bagi kaum muslimin. Allah memilihkan untuk Nabi-Nya dan kaum muslimin lokasi yang akan dijadikan tempat pembangunan masjid Nabawi melalui onta Nabi yang bernama Qoswa dikala onta tersebut berhenti di tempat diparutnya buah kurma milik dua orang anak yatim yang bernama Suhail dan Sahl, Nabi memanggil mereka berdua dengan tujuan membeli tanah tersebut, namun mereka menjawab dengan kalimat yang indah:
لا بل نهبه لَكَ يَا رَسُولَ الله
"Tidak ya Rasulallah, kami hibahkan (hadiahkan) untuk mu." (HR. Bukhari, No: 3906).

Dalam riwayat yang disebutkan oleh sahabat Anas bin Malik Radiyallahu 'anhu bahwa ia berkata tentang proses pembangunan pertama untuk masjid Rasulullah*:

"Kemudian beliau memerintahkan untuk membangun masjid. Lalu beliau mengutus seseorang untuk menemui pembesar suku Najjar. Utusan itu berkata; "Wahai suku Najjar, sebutkan berapa harga kebun kalian ini?" Mereka berkata: "Tidak, demi Allah. Kami tidak akan menjualnya kecuali kepada Allah!". Anas berkata; "Aku beritahu kepada kalian bahwa kebun itu banyak terdapat kuburan orang-orang musyrik, juga ada sisa- sisa reruntuhan rumah dan pohon-pohon kurma." Maka Nabi memerintahkan untuk membongkar kuburan-kuburan tersebut. Sedangkan reruntuhan rumah supaya diratakan dan untuk pohon- pohon kurma ditumbangkan, lalu dipindahkan di depan arah qiblat masjid". (HR. Bukhari No: 3717).

Nabi dan para sahabatnya memulai pembangunan masjid, bahkan Nabi ikut serta mengangkat batu dan tanahnya sambil bersenandung dengan kalimat yang membangkitkan semangat para sahabat:
اللهم إن الأجر أجر الآخرة فارحم الأنصار والمهاجرة
"Ya Allah, sesungguhnya pahala yang sebenarnya adalah pahala akhirat, ya Allah; rahmatilah orang-orang Anshar dan Muhajirin." (HR. Bukhari, No: 3906).

Pembangunan masjid Nabawi yang tiangnya terbuat dari pohon kurma dan beratapkan dedaunannya memakan waktu kurang lebih dua belas hari (12) lamanya, kemudian setelahnya baru dilakukan perluasan demi perluasan untuk masjid Rasulullah tersebut.

Demikianlah awal dakwah Nabi pada priode Madinah, dimana Allah membantu Nabi-Nya dengan orang-orang pilihan (Muhajirin dan Anshor) yang akan selalu berjuang bersama Rasulullah sampai titik penghabisan.

Syahrul Fatwa bin Lukman & Ariful Bahri

Post a Comment for "SEJARAH KOTA MAKKAH DAN MADINAH"