Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Tidak Mengambil Ilmu Agama Pada Sembarang Orang (Adab Menuntut Ilmu Syar’i #25)


Program Belajar Syariah Ke 1
Adab Menuntut Ilmu Syar’i #25
Adab Seorang Pelajar Terhadap Gurunya
Tidak Mengambil Ilmu Agama dari Sembarang Orang
Ustadz Agus Eko Wahyono, S.Pd.I
الحمد لله و الصلاة والسلام على رسول الله و أما بعد
Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah

Alhamdulillah pada kesempatan yang baik ini kita akan kembali membahas tentang adab-adab seorang penuntut ilmu.

Yaitu hendaklah seorang penuntut ilmu tidak menuntut ilmu dari guru yang ahli bid'ah, pengekor hawa nafsu atau orang yang mengedepankan akal. Syekh Bakr Abu Zaid di dalam kitabnya hilyah thalibil 'ilm beliau mengatakan yang artinya :
" Waspadalah terhadap Abu Jahal yaitu bapaknya kebodohan"

Siapa itu? yaitu ahli bid'ah yang tertimpa penyimpangan aqidah, diselimuti oleh awan khurafat, dia menjadikan hawa nafsu sebagai Hakim dengan menyebutnya sebagai akal, dia menyimpang dari Nash yaitu dari Wahyu padahal bukankah akal itu hanya ada dalam Nash. Dia memegangi yang dhaif atau yang lemah dan menjauhi yang sahih. Mereka juga dinamakan sebagai ahlus syubhat, orang-orang yang memiliki dan menebar kerancuan pemikiran dan juga disebut sebagai ahlul Ahwa, orang-orang yang mengikuti kemauan hawa nafsu.

Oleh karena itulah Ibnul Mubarok menamakan ahli bid'ah dengan al-Ashaghir yaitu orang-orang yang kecil, demikian perkataan Syekh Bakr Abu Zaid yang menyampaikan kepada kita khususnya kepada para penuntut ilmu agar waspada terhadap Abu Jahal

Yang dimaksud dengan Abu Jahal di sini adalah ahli bid'ah, ahlul ahwa', ahlus syubhat, orang-orang yang menebar syubhat dan orang-orang yang mengikuti hawa nafsu. Nabi shallallahu alaihi wasallam beliau pernah bersabda :
إن من أشراط الساعة أن يلتمس العلم عند الأصاغر
" Sesungguhnya diantara tanda hari kiamat adalah ilmu diambil dari orang-orang kecil"

Apa maksudnya itu orang-orang kecil? Ibnul Mubarok, beliau pernah ditanya, yang dimaksud dengan al-Ashaghir di sini, beliau menjawab adalah orang-orang yang berbicara dengan pikiran mereka yaitu orang-orang yang mengedepankan akal sehingga mengedepankan hawa nafsunya. Kemudian banyak perkataan ulama yang menjelaskan tentang mengambil ilmu dari ahli bid'ah atau orang yang mengikuti hawa nafsu dan mengedepankan akal. Diantaranya seorang sahabat yang mulia Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu beliau pernah berkata: (yang artinya)

" Perhatikanlah dari siapa kamu mengambil ilmu ini karena sesungguhnya ia adalah agama"

Ilmu adalah agama sehingga hendaknya tidak sembarangan diambil dari sembarang orang. Perkataan ini yang disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu juga banyak diriwayatkan oleh sejumlah salafus Sholeh seperti Muhammad bin Sirin, adh-dhaha' kemudian juga yang lainnya. Sahabat yang lain yaitu Abdullah Ibnu Mas'ud Radhiyallahu'anhu beliau juga pernah berkata : (yang artinya)

" Manusia akan selalu berada di atas kebaikan selama ilmu itu mereka datangi, mereka ambil dari para sahabat nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan dari orang-orang besar ( orang-orang yang mumpuni, kemudian beliau melanjutkan) jika ilmu datang dari arah orang-orang kecil (maksudnya adalah ahli bid'ah, ahlul ahwa', ahlul syubhat, dari orang-orang kecil, dari orang-orang yang mengikuti hawa nafsu)mereka bercerai berai, mereka pasti binasa"

Dalam riwayat lain disebutkan:
" Manusia selalu berada pada kebaikan selama mereka mengambil ilmu dari orang-orang yang besar / orang-oranv yang mumpuni, jika mereka mengambil ilmu dari orang-orang yang kecil (yaitu maksudnya adalah ahli bid'ah) atau orang-orang yang fasik diantara mereka, maka mereka pasti binasa"

Imam Malik juga pernah berkata :
" Ilmu tidak boleh diambil dari 4 orang : orang bodoh yang nyata kebodohannya, pengikut hawa nafsu yang dia mengajak orang untuk mengikuti hawa nafsu, orang yang dikenal sebagai pendusta di dalam berbicara pada manusia walaupun dia tidak pernah berdusta atas nama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan seorang yang mulia dan Soleh yang tidak mengetahui hadis yang ia sampaikan."

Demikian beberapa perkataan ulama yang menjelaskan kepada kita pentingnya menuntut ilmu, mengambil ilmu dari orang-orang yang memang terpercaya dan jangan sampai mengambil ilmu dari al-Ashaghir. Siapa al-Ashaghir? Sebagaimana yang sudah dijelaskan tadi, mereka adalah para ahli bid'ah, para ahlil ahwa' atau ahlus syubhat.

Demikian wallahu ta'ala a'lam

Soal Evalusi: Siapa ahlul bid'ah & Ahlus Shubhat? dan kenapa tidak boleh mengambil ilmu dari mereka?

NB:Dilarang mengubah audio dan isi materi atau memindahkannya tanpa mencantumkan sumber.

Post a Comment for "Tidak Mengambil Ilmu Agama Pada Sembarang Orang (Adab Menuntut Ilmu Syar’i #25)"